Beranda Artikel Telah Lahir Majlis Juguran Guyub Rukun Cinta Habaib dan Gawagis Banyumas

Telah Lahir Majlis Juguran Guyub Rukun Cinta Habaib dan Gawagis Banyumas

148
0

Banyumas – Liputan Warta Jatim, Juguran cinta Habaib dan Gawagis Banyumas ini dihadiri oleh beberapa kyai muda (gawagis) dan habaib yang ada di Banyumas. Acara ini dilaksanakan di Langgongsari pada hari rabu 9 Oktober 2024, dan diinisiiasi sebagai ikhtiar kemanusiaan untuk menyampaikan kepada Masyarakat luas bahwa Banyumas guyub rukun dan tidak ada ribut-ribut apapun antara eleman masyarakatnya terutama habaib dan ulama Banyumas.

Meski persiapan acara sangat singkat, namun rasa cinta dan semangat mempertahankan harmoni antar sesama pecinta Rasul SAW sama sekali tidak membuat acara tersebut kehilangan spirit dan tujuannya.

Bahkan, tidak berlebih jika dikatakan bahwa acara tersebut melampaui ekspektasi para inisiator. Suasa “gayeng” dalam mengemas obrolan yang serius dan sensitif betul-betul tersaji dalam 5 jam obrolan penuh canda dan bernas. Durasi yang “molor” dari 2 jam menjadi 5 jam betul-betul tidak terasa.

Para peserta yang hadir duduk bersama untuk mensikapi isu yang semula hanya soal beda perspektif soal “nasab”, berkembang dan berubah menjadi bola liar yang mengarah pada munculnya berbagai praktik-praktik intoleran, diskriminatif, bahkan cederung intimidatif.

Ironisnya, ini terjadi di kalangan sesama muslim, bahkan sesama warga NU yang sama-sama penggemar shalawat dan pengajian.

Pertemuan ini dibangun atas kesadaran bersama sebagai warga muslim Banyumas yang ingin kehidupan damai, rukun, serta toleran di seluruh wilayah Banyumas, dan Indonesia secara luas, tetap terjaga dan Lestari.

Pertemuan ini sekaligus juga ingin menunjukkan kepada masyarakat di Banyumas bahwa hubungan para habaib dan kyai muda Banyumas itu “baik-baik saja”, harmonis dan penuh kehangatan.

Ada beberapa point yang menjadi kesapakat majelis juguran Gawagis dan Habaib Banyumas, yaitu :

Pertama, tidak boleh adalagi pencekalan dalam bentuk apapun terhadap acara-acara keagamaan yang menjadi tradisi NU, seperti shalawatan, pegajian akbar, atau majelis ilmu yang lain. Hal ini berlaku baik yang menjadi pembicara atau imam shalawat dari kalangan habaib atau kyai/Gus NU.

Baca Juga :  Maraknya mafia Pertalite di SPBU Tanggul   

Peserta juguran bertekad akan memback-up setiap acara tersebut dengan melakukan koordinasi lintas sektor yang memungkinkan acara berjalan dengan damai dan lancar.

Kedua, setiap acara keagamaan yang diadakan oleh warga NU atau habaib sebisa mungkin mengundang kedua belah pihak sebagai wasilah mempererat ukhuwwah, dan sekali lagi, menepis anggapan bahwa keduanya tidak harmonis.

Sebagai langkah kongkret dari egenda ini adalah meminta agar panitia HSN 2024 PCNU Banyumas turut mengundang para habaib untuk hadir bersama memeriahkan agenda tersebut.

Menindaklanjuti kepsepakatan ini, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Banyumas akan mengawali untuk mengundang para habaib hadir menjadi peserta dalam acara Bahtsul Masail al-Djniyyah dalam rangkaian kegiatan HSN 2024 di Masjid UNU Purwokerto tanggal 26 Oktober 2024.

Ketiga, Habaib dan gawagis sepakat bahwa pertemuan ini bukan yang pertama dan terakhir. Akan ada pertemuan lanjutan, baik sebagai follow up “jalsah” perdana atau menjadi semacam pertemuan rutin di kemudian hari.

Bahkan, secara “spontan” majelis juguran ini menginisiasi lahirnya sebuah nama majelis yaitu : “MAJELIS JUGURAN GUYUB RUKUN”, yang menjadi wadah silaturahim antara para kyai dan habaib di wilayah Banyumas.

Secara filosofis, nama majelis ini menjadi do’a plus harapan agar seluruh warga Banyumas tetap mampu menjalani kehidupan dengan guyup, rukun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan.

Di lain sisi, nama majelis ini juga diharapkan mampu menjadi pemompa semangat “jihad” untuk menyebarluaskan dan memperkuat ajaran islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan meneledani prinsip-prinsip yang diwariskan oleh para ulama nusantara terdahulu, yaitu tawazun, tasamuh, tawasut, dan I’tidal (al-‘adl). “Jihad” ini menjadi penting dilakukan di tengah-tengah, pada saat bersamaan muncul berbagai komunitas yang mencoba melakukan berbagai upaya untuk adudomba warga NU dan habaib.

Framing negatif dan propaganda ide “hitam” yang terus dikampanyekan oleh mereka sudah saatnya mendapatkan penyeimbang yang arif dan bertanggungjawab terhadap eksistensi dan peran habaib dalam nasyr al-ilmi wa al-khayr di wilayah Banyumas.

Baca Juga :  Cegah Teror Jelang Pilkada, Unit Patroli Sabhara Polres Gresik Sambangi kantor partai

Dengan arif dan bijaksana, karena tidak disertai caci maki dan kata penuh “fitnah’, dan bertanggung jawab karena nalar kritis tetap dijaga oleh masing-masing gawagis dan habaib.

Anggota majelis sepakat bahwa dalam diri masing-masing kelompok tetap saja ada ego dan nafsu, yang terkadang membawa mereka pada perilaku yang tidak bisa dibenarkan, baik oleh norma adat maupun aturan syariat.

Dalam kondisi seperti ini, saling menasehati atau mengkritik dalam rangka memperbaiki diri menjadi hal yang juga harus dilestarikan.

Terlesenggaranya juguran ini sebenarnya mewakili silent majority yang secara umum merepresentasikan pola relasi antara habaib dan kyai di Banyumas yang tetap menjunjung tinggi kerukunan, toleransi, dan keramahtamahan.

Majelis juguran meyakini bahwa framing dan propaganda “anti habaib” yang selama ini lantang disuarakan oleh sebagian kecil Masyarakat Banyumas adalah vocal minority, atau “suara besar dari kelompok kecil”, bukan “suara lirih dari kelompok besar” seperti anggota majelis dan jamaahnya.

Acara juguran yang dihadiri oleh berbagai tokoh elemen NU dan Habaib seperti, Gus Hasan Jatilawang, Gus Fahmi dan Gus Nar (LBM PCNU), Gus Munif (RMI PCNU), Gus Saikhu dan Gus Enjang (Pengurus PCNU), Gus Ajir dan Keluarga (PP Nurul Huda),

Dan gawagis serta para kyai lainnya, Habib Muhammad Kranggan, Habib Abdul Qadir M, (Habib Ading), Habib Chaidar, Habib Syafiq, Habib Ridho dan Habib Luqman (Rabitah Alawiyyah), dan para habaib yang lain,

Serta dihadiri kasatkorcab Banser Banyumas (komandan Andri), berkomitmen untuk terus berrjuang menjaga kerukunan antar umat beragama di wilayah Banyumas, utamanya kerukunan internal umat Islam Ahlussunnah wal jamaah yang akhir-akhir ini sedikit terusik. (Gus Atiq Nururrobbani / Mm